PROLOG
“Eh wajah lo kok familiar banget sih?” Rara menatap wajah
Rey sambil mengerutkan alisnya. Ia merasa Rey sangat familiar dengan seseorang.
Seseorang yang sepertinya pernah ada didalam hidupnya.
“Haha mirip shawn mendes kan gue?” ucap Rey dengan wajah sombongnya.
Rara pun memutar bola matanya kesal. Lanjutnya, Rara
terlihat melamun seperti memikirkan sesuatu.
“Eh iya lo mirip kakak kandung gue deh kayaknya”
Rey agak terkejut dengan ucapan Rara.
“k..ka..kakak?”
Rara mengerutkan alis bingung, “kenapa lo? Kok kaget gitu?” Rey pun segera tersadar dan kembali mengontrol wajahnya.
“Ah enggak, emangnya lo punya kaka? Kok gue jadi kasian sama
kakak lo karena punya adik kayak lo”
“Bacot. Iya gue punya. Dulu sih waktu umur gue 6 tahun klo
ga salah ,gue sama kakak gue dulu kepisah. Nama dia Abara , dan gue Adara. Lucu
yah cuma beda huruf B/D doang” ujar Rara.
“Kok bisa kepisah kenapa?” tanya nya dengan nada sedikit
hati-hati.
“Karena kecelakaan” jawab Rara sambil menghembuskan nafasnya
kasar.
“10 tahun yang lalu keluarga gue ngalamin kecelakaan bus,
gue sih ga inget pasti. Gue salah satu korban selamat, sama kakak gue juga,
sedangkan ayah & ibu gue meninggal saat itu. Kakak gue emang selamat sih
tapi setelah itu gue ga inget lagi dia kemana. Karena, saat kecelakaan itu gue
ditaro di panti asuhan selama setahun dan akhirnya gue keluar lalu dirawat sama
tante gue.” Lanjut nya menjelaskan. Terlihat raut wajah Rara yang agak murung.
Rey mengerutkan kening dan bengong seperti berpikir sesuatu. Rara
yang melihat itu menyenggol lengan Rey.
“Heh gue gasuka ya kalo dikasihanin gitu. Apalagi
dikasihanin sama orang yang ga punya hati kayak lo.”
“Dih siapa juga yang kasihan sama lo. GR,”
Rara terkekeh pelan, “Rey gue suka sama lo” ujar Rara
tiba-tiba dengan wajah yang lurus kedepan tidak menatap Rey.
Rey kaget lalu menatap wajah Rara. “Ha?”,
Rara lalu berdiri dan menatap Rey dengan wajah santainya.
“Kenapa? Kaget? Gue ga minta lo balas perasaan gue kok. Gue duluan
ya, gue mau belajar buat uts besok. Bye!” ujar Rara lalu pamit pergi. Namun,
tiba-tiba Rey menahan tangannya.
“Tunggu!” ucap Rey lalu ikut berdiri.
“Ada yang mau gue katakan ke elo” kata Rey lalu memberi jeda
beberapa detik.
Rara yang tertahan lalu ikut terdiam dan menunggu apa yang
akan diucapkan Rey sambil memiliki rasa berharap.
“Gue…”
Rey memberi jeda pada kalimatnya, dia harus mengatakan itu
sekarang sebelum semuanya jadi rumit. Tapi, dia agak ragu dan juga takut. Takut
dengan reaksi Rara nantinya.
Rey memejamkan matanya.
“Gue Abara.”
Mata Rey masih terpejam, setelah mengatakan itu ia tak
mendengar reaksi apapun dari Rara.
Setelah 2 menit berlalu, Rey pun mencoba membuka matanya.
Tepat saat Rey membuka mata, tiba-tiba ada tangan yang
melingkarkan di pinggangnya dan memeluknya erat. Rey dapat merasakan kedua tangan
orang itu gemetar dan baju nya basah seperti nya Rara menangis.
Sempat terdiam sesaat setelah Rara memeluknya, Rey pun
akhirnya membalas pelukan hangat itu. Tanpa disadarinya, air matanya juga
keluar. Mereka berdua pun menangis bersama-sama didalam pelukan itu. Tidak hanya
tangisan. Mereka saat itu sama-sama berpikir satu hal.
Bagaimana kah nasib perasaan aneh dan terlarang ini nantinya?
Comments
Post a Comment